Rabu, 18 Maret 2015

Sesuatu yang Bernama Bosan

Beberapa hari ini entah kenapa aku merasa sangat bosan. Rasanya hari-hari ini ingin sekali dihabiskan diatas kasur. Mungkin menyenangkan. Mungkin. Atau tidak sama sekali.

Rasanya mata tuh berat banget buat terbuka lebar seperti biasa. Mungkin karena faktor libur terlalu lama. Faktor libur ini yang selalu membuatku bangun terlalu siang. Ah, bosan. Kadang ingin sekali bolos sekolah cuman untuk tidur seharian. Tapi sayangnya, itu hanya sebuah hayalan tak terkabulkan.

Mata ini terasa sangat berat untuk terbuka. Andai ada obatnya. Mungkin obatnya hanya ada 1. Yaitu istirahat. Tidur. Melepas lelah. Dan kawan-kawannya.

Semoga kalian mendapatkan istirahat yang cukup untuk tubuh yang sehat :) :))

Sabtu, 14 Maret 2015

Tempat Asing Bernama Belajar



                Suasana sekolah kali ini sangat sepi. Walaupun sekarang adalah jam istirahat untuk semua warga sekolah. Entah kenapa semuanya terlihat sangat sibuk didalam kelas. Aku duduk dibawah sinar matahari siang dipinggir lapangan. Kebiasaanku dengan tim basketku. Tapi saat ini hanya aku sendiri disini. Aku masih duduk memandangi koridor sekolah yang hanya ada 1, 2 siswa saja yang mondar-mandir. “aneh sekali” gumamku. Aku melirik jam tanganku yang terpasang dilengan kiri. Sekarang pukul 10.30, pantas saja sudah 10 menit yang lalu jam istirahat berakhir. Aku dengan malas bangkit dari duduk-ku. Tepat saat akan keluar dari lapangan seorang perempuan cantik berdiri tepat dihadapanku.

“kau, yang bernama Alvin?”suara lirih sedikit ragu untuk bertanya.

“ada apa?”tanyaku cuek berharap ini akan menyita waktu banyak dan aku tidak harus mengikuti pelajaran matematika.

                Tapi tak ada jawaban langsung dari perempuan dihadapanku. Perempuan itu terdiam cukup lama dihadapanku. Aku memperhatikan wajahnya. Sangat asing. Tapi hatiku bilang aku mengenalnya. Sangat mengenalnya. Pipinya tembem, tapi badannya tidak gendut. Hidungnya mancung dan kulitnya putih langsat. Yang paling kusuka adalah rambutnya yang natural. Hitam pekat. Mungkin dia menggunakan shampo urang aring untuk rambutnya. Aku menatap matanya, kulihat matanya memancarkan kerapuhan. Tapi dia berusaha untuk menutupi itu. Dia kembali menatapku dengan tegas walaupun sebenarnya aku bisa melihat kerapuhan yang terlihat.

“kamu dipanggil kepala sekolah. Katanya ada yang mau diomongin”katanya. “aku cari kamu kesetiap sudut sekolah dari tadi ternyata kamu disini”lanjutnya.

“memangnya ada apa kepala sekolah memanggilku?”tanyaku bingung.

Dia mengangkat bahunya dengan lembut, “aku tidak tahu. Lebih baik kamu kesana saja, supaya tugasku mencarimu selesai”katanya dengan nada kesal.

                Aku mengiyakannya dengan anggukan. Caranya menyuruhku sedikit memaksa. Tapi aku masih penasaran dengannya. Aku berjalan santai menuju ruang kepala sekolah. Perempuan itu masih mengikutiku sampai didepan ruang kepala sekolah. Katanya dia sudah lelah mencariku? Lalu kenapa dia masih mengikutiku? Aku berbalik, dia terkejut dengan gerakan sepontanku.

“kenapa kamu masih ngikutin aku keruang kepala sekolah? Padahal kamu bilang kamu....”

“ternyata kalian sudah disini. Ayo masuk, saya sudah menunggu kalian berdua”

                Apa? Kalian berdua? Aku dan dia? Dengan perempuan ini? Kamipun langsung masuk begitu dipersilahkan. Aku menghentikan kata-kataku tadi. Kurasa aku tidak perlu melanjutkannya, aku sudah tahu alasannya.  Aku berdiri didepan meja kerja kepala sekolah dan sudah tentu disebelahku adalah perempuan tadi yang tak kutahu namanya. Aneh aku tidak mengenali namanya tapi sepertinya wajahnya tak asing diotakku. Otak payah ini bisa saja mengingat. Wajahnya manis seperti coklat. Tatapannya terus tertuju pada kepala sekolah. Aku mengikuti tatapan matanya.

“Alvin! Kamu tahu kenapa saya memanggilmu?” pertanyaan bodoh, mana bisa aku membaca pikirannya?

                Aneh. Akhir-akhir ini banyak sekali pertanyaan yang membuatku terlihat benar-benar seperti orang bodoh. Ah! Menyebalkan kenapa harus bertanya padaku yang sama sekali tidak tahu apa-apa.

“kalian berdua, Alvin dan Anna. Kalian ini seperti uang logam”katanya mengambil selembar kertas didalam stopmap.

                Aku melirik perempuan disampingku. Sekarang aku tahu namanya, Anna. Tunggu! Sepertinya aku mengenalnya. Atau tidak sama sekali.

“Alvin, kau rangking terakhir dan Anna, rangking pertama. Apa bisa Anna ini membawamu kearah lebih baik?” nadanya sedikit frustasi.

“tapi kuharap ada perubahan setelah kubentuk kelompok belajar”

“kalau bapak tidak yakin, lebih baik tidak usah. Nanti yang ada saya mengecewakan bapak”kataku.

“ya, saya memang tidak yakin. Tapi saya tahu akan ada perubahan jika ada kemauan, Anna akan membantu menuntunmu kejalan yang lebih baik dimasa depan” ah, kata-katanya terlalu tinggi untuk kucerna.

“bapak tidak salah memilih saya? Banyak siswa disini yang mungkin nilainya lebih buruk dari saya”protesku

“baiklah, saya akan memberi soal setiap minggunya. Jadi, belajarlah yang giat”dia tak memerdulikan kata-kataku tadi

“pak, kalo dia”aku menunjuk Anna yang masih memerhatikan kepala sekolah. “belajar dan bapak beri soal tidak masalah, dia siswa nomor satu disini. Nah kalo saya?”

“maka dari itu, saya membentuk kelompok belajar ini. Baiklah, sepertinya cukup kalian boleh kembali kekelas”

Aku mendengus kesal. Bagaimana bisa aku masuk dikelompok belajar bersama siswi terpintar disekolah. Pasti sangat membosankan. Dan pasti tidak akan ada waktu untuk bermain basket bersama teman-teman timku. Apa ini adalah akhir dari semua yang kulakukan selama ini? Ah! Aku mendengus kembali. Nilai yang baik sama dengan tidak mungkin dalam kamusku. Dan dalam kamusku nilai terbaikku adalah 5. Itu adalah topscore ku disemua mata pelajaran.

“baik, Pak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin”kalimat itu muncul dari mulut Anna. Suaranya lembut dan aku benar-benar suka. Hey!

“hey! Kau tidak tahu top scoreku beberapa hari terakhirkan? Jadi....”

“Diskusi kelompok belajar kalian dimulai siang ini”kata Kepala sekolah dengan nada sedikit puas

                Aku mengela nafas. Kesal. Pasti. Ini bukan yang kuinginkan. Aku tidak mungkin bisa mendapatkan nilai bagus. Bagaimana bisa aku mendapatkan nilai lebih dari lima? Ah! Perempuan manis seperti coklat ini membawaku ketempat asing bernama Belajar. Aku tidak menyukainya. Sangat tidak menyukainya. Menyebalkan!

Dia bukan Aku



“Aku akan melakukannya!”katanya penuh semangat.

                Aku hanya meresponnya dengan mengangkat bahu. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya? Dan untuk siapa dia melakukannya? Ah! Aku dan Diyan sudah 10 menit yang lalu berada di kantin. Sekarang adalah jam kosong dikelas ku. Dan kami berdua sangat bosan berkutat dengan hitungan x+y . sudah sangat lama aku berteman dengan Diyan. Dan saking lamanya muncul sesuatu yang bergejolak dihatiku. Mungkin hanya aku yang merasakannya. Dan aku berusaha untuk bersikap se-biasa mungkin didepannya.

                Aku mendongak. Dia menatapku tajam, seakan ingin meminta respon yang lebih dariku.
“Apa?”tanyaku.

“Kamu gak penasaran apa yang akan aku lakukan?”katanya sedikit kesal.

“Bukannya setiap aku tanya begitu kamu selalu jawab dengan kalimat yang sama ‘tunggu aja hasilnya, ntar juga bakal tahu sendiri’ gitukan?”kataku cuek.

                Dia menyengir kuda. Aku hanya diam, kembali menikmati bakso yang telah Diyan pesan untukku. Dari sebrang sana, 2 cewe cantik yang kukenal datang. Aku tidak memerdulikan kedatangannya. Dia siswi terpintar disekolah ini. Aku kembali fokus dengan mangkuk baksoku ketika aku memergoki Diyan menatap Tasya salah satu cewe cantik itu. Dan tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Keduanya pun mengulas senyum. Aku merasa ada yang aneh dengan mereka berdua. Tidak seperti biasanya Diyan seperti ini.

Keesokan harinya

“Hey! Gimana sama misimu?”tanyaku saat sedang santai dikelas.

“Kamu pasti gak nyangka sama hasilnya. Dan kayaknya kita bakal jarang main deh”katanya dengan penuh semangat.

                Tunggu! Apa katanya? ‘jarang main’? Apa maksudnya? Sebenarnya apa misinya itu? Tiba-tiba saja aku merasa penasaran dengan misinya itu. tidak seperti biasanya. Aku sangat penasaran. Iya, sangat penasaran. Aku punya perasaan tidak enak dengan misinya kali ini. Jantungku berdebar kencang tak beraturan. Sungguh aku tidak bisa mengaturnya. 

                Aku menarik nafas. Berharap bisa lebih tenang. 

“Sebenarnya apa yang kau lakukan? Dan bagaimana dengan hasilnya? Aku penasaran” Sangat penasaran. Cepat katakan padaku.

“Kemarin aku menyatakan cinta pada Tasya, dan aku tidak menyangka dia menerimaku”Jawabnya masih dengan semangat yang menggebu.

                Deg! Apa katanya? Tasya? Jadi, dia menyatakan cinta pada Tasya? Bagaimana bisa aku tidak apa-apa tentang perasaannya? Kitakan teman. Aku menarik nafas lagi. Dadaku sesak. Sangat sesak.

“wow, ternyata temanku hebat juga bisa dapet cewe cantik sekolah. Selamat ya” kataku merangkulnya yang disambut senyum gembira dari Diyan.

                Sudah kubilang aku berusaha untuk melakukan semuanya se-biasa mungkin. Walau itu terasa sangat sakit. Bagaimana lagi aku menyayanginya. Semuanya bisa dilakukan asal orang yang kita sayangi juga bahagia kan?