Suasana sekolah kali ini sangat
sepi. Walaupun sekarang adalah jam istirahat untuk semua warga sekolah. Entah
kenapa semuanya terlihat sangat sibuk didalam kelas. Aku duduk dibawah sinar
matahari siang dipinggir lapangan. Kebiasaanku dengan tim basketku. Tapi saat
ini hanya aku sendiri disini. Aku masih duduk memandangi koridor sekolah yang
hanya ada 1, 2 siswa saja yang mondar-mandir. “aneh sekali” gumamku. Aku
melirik jam tanganku yang terpasang dilengan kiri. Sekarang pukul 10.30, pantas
saja sudah 10 menit yang lalu jam istirahat berakhir. Aku dengan malas bangkit
dari duduk-ku. Tepat saat akan keluar dari lapangan seorang perempuan cantik
berdiri tepat dihadapanku.
“kau, yang bernama Alvin?”suara lirih sedikit ragu untuk
bertanya.
“ada apa?”tanyaku cuek berharap ini akan menyita waktu
banyak dan aku tidak harus mengikuti pelajaran matematika.
Tapi
tak ada jawaban langsung dari perempuan dihadapanku. Perempuan itu terdiam
cukup lama dihadapanku. Aku memperhatikan wajahnya. Sangat asing. Tapi hatiku
bilang aku mengenalnya. Sangat mengenalnya. Pipinya tembem, tapi badannya tidak
gendut. Hidungnya mancung dan kulitnya putih langsat. Yang paling kusuka adalah
rambutnya yang natural. Hitam pekat. Mungkin dia menggunakan shampo urang aring
untuk rambutnya. Aku menatap matanya, kulihat matanya memancarkan kerapuhan.
Tapi dia berusaha untuk menutupi itu. Dia kembali menatapku dengan tegas
walaupun sebenarnya aku bisa melihat kerapuhan yang terlihat.
“kamu dipanggil kepala sekolah. Katanya ada yang mau
diomongin”katanya. “aku cari kamu kesetiap sudut sekolah dari tadi ternyata
kamu disini”lanjutnya.
“memangnya ada apa kepala sekolah memanggilku?”tanyaku
bingung.
Dia
mengangkat bahunya dengan lembut, “aku tidak tahu. Lebih baik kamu kesana saja,
supaya tugasku mencarimu selesai”katanya dengan nada kesal.
Aku
mengiyakannya dengan anggukan. Caranya menyuruhku sedikit memaksa. Tapi aku
masih penasaran dengannya. Aku berjalan santai menuju ruang kepala sekolah.
Perempuan itu masih mengikutiku sampai didepan ruang kepala sekolah. Katanya
dia sudah lelah mencariku? Lalu kenapa dia masih mengikutiku? Aku berbalik, dia
terkejut dengan gerakan sepontanku.
“kenapa kamu masih ngikutin aku keruang kepala sekolah?
Padahal kamu bilang kamu....”
“ternyata kalian sudah disini. Ayo masuk, saya sudah
menunggu kalian berdua”
Apa?
Kalian berdua? Aku dan dia? Dengan perempuan ini? Kamipun langsung masuk begitu
dipersilahkan. Aku menghentikan kata-kataku tadi. Kurasa aku tidak perlu
melanjutkannya, aku sudah tahu alasannya. Aku berdiri didepan meja kerja kepala sekolah
dan sudah tentu disebelahku adalah perempuan tadi yang tak kutahu namanya. Aneh
aku tidak mengenali namanya tapi sepertinya wajahnya tak asing diotakku. Otak
payah ini bisa saja mengingat. Wajahnya manis seperti coklat. Tatapannya terus
tertuju pada kepala sekolah. Aku mengikuti tatapan matanya.
“Alvin! Kamu tahu kenapa saya memanggilmu?” pertanyaan
bodoh, mana bisa aku membaca pikirannya?
Aneh.
Akhir-akhir ini banyak sekali pertanyaan yang membuatku terlihat benar-benar
seperti orang bodoh. Ah! Menyebalkan kenapa harus bertanya padaku yang sama
sekali tidak tahu apa-apa.
“kalian berdua, Alvin dan Anna. Kalian ini seperti uang
logam”katanya mengambil selembar kertas didalam stopmap.
Aku
melirik perempuan disampingku. Sekarang aku tahu namanya, Anna. Tunggu!
Sepertinya aku mengenalnya. Atau tidak sama sekali.
“Alvin, kau rangking terakhir dan Anna, rangking pertama.
Apa bisa Anna ini membawamu kearah lebih baik?” nadanya sedikit frustasi.
“tapi kuharap ada perubahan setelah kubentuk kelompok
belajar”
“kalau bapak tidak yakin, lebih baik tidak usah. Nanti yang
ada saya mengecewakan bapak”kataku.
“ya, saya memang tidak yakin. Tapi saya tahu akan ada
perubahan jika ada kemauan, Anna akan membantu menuntunmu kejalan yang lebih
baik dimasa depan” ah, kata-katanya terlalu tinggi untuk kucerna.
“bapak tidak salah memilih saya? Banyak siswa disini yang
mungkin nilainya lebih buruk dari saya”protesku
“baiklah, saya akan memberi soal setiap minggunya. Jadi,
belajarlah yang giat”dia tak memerdulikan kata-kataku tadi
“pak, kalo dia”aku menunjuk Anna yang masih memerhatikan
kepala sekolah. “belajar dan bapak beri soal tidak masalah, dia siswa nomor
satu disini. Nah kalo saya?”
“maka dari itu, saya membentuk kelompok belajar ini.
Baiklah, sepertinya cukup kalian boleh kembali kekelas”
Aku mendengus kesal. Bagaimana
bisa aku masuk dikelompok belajar bersama siswi terpintar disekolah. Pasti
sangat membosankan. Dan pasti tidak akan ada waktu untuk bermain basket bersama
teman-teman timku. Apa ini adalah akhir dari semua yang kulakukan selama ini?
Ah! Aku mendengus kembali. Nilai yang baik sama dengan tidak mungkin dalam
kamusku. Dan dalam kamusku nilai terbaikku adalah 5. Itu adalah topscore ku
disemua mata pelajaran.
“baik, Pak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin”kalimat
itu muncul dari mulut Anna. Suaranya lembut dan aku benar-benar suka. Hey!
“hey! Kau tidak tahu top scoreku beberapa hari terakhirkan?
Jadi....”
“Diskusi kelompok belajar kalian dimulai siang ini”kata
Kepala sekolah dengan nada sedikit puas
Aku
mengela nafas. Kesal. Pasti. Ini bukan yang kuinginkan. Aku tidak mungkin bisa
mendapatkan nilai bagus. Bagaimana bisa aku mendapatkan nilai lebih dari lima?
Ah! Perempuan manis seperti coklat ini membawaku ketempat asing bernama
Belajar. Aku tidak menyukainya. Sangat tidak menyukainya. Menyebalkan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar