Sabtu, 14 Maret 2015

Dia bukan Aku



“Aku akan melakukannya!”katanya penuh semangat.

                Aku hanya meresponnya dengan mengangkat bahu. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya? Dan untuk siapa dia melakukannya? Ah! Aku dan Diyan sudah 10 menit yang lalu berada di kantin. Sekarang adalah jam kosong dikelas ku. Dan kami berdua sangat bosan berkutat dengan hitungan x+y . sudah sangat lama aku berteman dengan Diyan. Dan saking lamanya muncul sesuatu yang bergejolak dihatiku. Mungkin hanya aku yang merasakannya. Dan aku berusaha untuk bersikap se-biasa mungkin didepannya.

                Aku mendongak. Dia menatapku tajam, seakan ingin meminta respon yang lebih dariku.
“Apa?”tanyaku.

“Kamu gak penasaran apa yang akan aku lakukan?”katanya sedikit kesal.

“Bukannya setiap aku tanya begitu kamu selalu jawab dengan kalimat yang sama ‘tunggu aja hasilnya, ntar juga bakal tahu sendiri’ gitukan?”kataku cuek.

                Dia menyengir kuda. Aku hanya diam, kembali menikmati bakso yang telah Diyan pesan untukku. Dari sebrang sana, 2 cewe cantik yang kukenal datang. Aku tidak memerdulikan kedatangannya. Dia siswi terpintar disekolah ini. Aku kembali fokus dengan mangkuk baksoku ketika aku memergoki Diyan menatap Tasya salah satu cewe cantik itu. Dan tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Keduanya pun mengulas senyum. Aku merasa ada yang aneh dengan mereka berdua. Tidak seperti biasanya Diyan seperti ini.

Keesokan harinya

“Hey! Gimana sama misimu?”tanyaku saat sedang santai dikelas.

“Kamu pasti gak nyangka sama hasilnya. Dan kayaknya kita bakal jarang main deh”katanya dengan penuh semangat.

                Tunggu! Apa katanya? ‘jarang main’? Apa maksudnya? Sebenarnya apa misinya itu? Tiba-tiba saja aku merasa penasaran dengan misinya itu. tidak seperti biasanya. Aku sangat penasaran. Iya, sangat penasaran. Aku punya perasaan tidak enak dengan misinya kali ini. Jantungku berdebar kencang tak beraturan. Sungguh aku tidak bisa mengaturnya. 

                Aku menarik nafas. Berharap bisa lebih tenang. 

“Sebenarnya apa yang kau lakukan? Dan bagaimana dengan hasilnya? Aku penasaran” Sangat penasaran. Cepat katakan padaku.

“Kemarin aku menyatakan cinta pada Tasya, dan aku tidak menyangka dia menerimaku”Jawabnya masih dengan semangat yang menggebu.

                Deg! Apa katanya? Tasya? Jadi, dia menyatakan cinta pada Tasya? Bagaimana bisa aku tidak apa-apa tentang perasaannya? Kitakan teman. Aku menarik nafas lagi. Dadaku sesak. Sangat sesak.

“wow, ternyata temanku hebat juga bisa dapet cewe cantik sekolah. Selamat ya” kataku merangkulnya yang disambut senyum gembira dari Diyan.

                Sudah kubilang aku berusaha untuk melakukan semuanya se-biasa mungkin. Walau itu terasa sangat sakit. Bagaimana lagi aku menyayanginya. Semuanya bisa dilakukan asal orang yang kita sayangi juga bahagia kan? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar